Dulu Pekerja Migran, Kini Anggota Dewan

Ponorogo, MASIH teringat dibenak Ribut Riyanto, perjalanan hidup yang harus dilakoninya pada 2001. Saat itu, usia Ribut baru 19 tahun. Jiwa mudanya menggelora, menuntut mendapatkan penghasilan layak di negeri seberang. Apalagi, menjadi TKI di luar negeri menjadi tren saat itu.Dipilihnya Malaysia, karenapenghasilan yang ditawarkan cukup mengiurkan. ‘’Saya masuk pertama kali di Malaysia sebagai pelancong, baru setelahnya menjadi TKI ilegal,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Ponorogo.

Pria yang kini berusia 34 tahun itu nekat menjadi TKI ilegal karena pengurusan izin bekerja di Malaysia cukup lama. Uang yang harus dikeluarkan untuk mengurus dokumen kerja juga cukup banyak. Saat menjadi pelancong dan TKI ilegal, dia hanya perlu merogoh kocek Rp 3,5 juta. Beda dengan keberangkatan resmi yang mencapai Rp 7 juta-Rp 9 juta. ‘’Padahal, tidak mudah mencari duit sebanyak itu apalagi saat itu krisis moneter. Memang saat itu saya dapat informasi sepihak soal keberangkatan ke Malaysia,’’ paparnya.

Setamat SMK jurusan listrik, warga Wagir Kidul, Kecamatan Pulung itu bekerja di salah satu pabrik elektronik di Riau, selama setahun. Penghasilannya ditabung agar bisa untuk pergi ke luar negeri. Karena tak banyak tahu soal informasi keberangkatan dan ingin berhemat, dia nekat masuk Malaysia dengan visa turis. ‘’Saya mendaftar ke tekong dari teman, orang Batam. Saya ngurus paspor di Bengkalis. Waktu itu saya naik kapal dari Batam menuju Pasir Gudang Port, Malaysia,’’ terangnya.

Perjalanan melalui jalur laut itu memakan waktu 45 menit. Sesampainya di Pasir Gudang, petugas imigrasi menolak kendatangan Ribut. Pasalnya, usianya masih muda. ‘’Mereka tanya awak usia berape, macam budak (Kamu usia berapa, kok masih anak-anak, Red). Tiga kali saya kena tendang petugas imigrasi. Akhirnya saya dibantu orang dan bisa masuk Malaysia. Saya naik bus menuju sungai Petani, Penang, Malaysia,’’ ungkapnya.

Meski memiliki background pendidikan jurusan listrik, Ribut menjadi kuli bangunan. Selama enam bulan pekerjaan itu dilakoni dengan penghasilan 40 ringit per hari. Dia bekerja enam hari dalam sepekan. ‘’Setelah jadi kuli, saya menjadi tukang. Penghasilan meningkat dan lumayan ditabung,’’ katanya.

Menikmati penghasilan lumayan tidak membuat hati Ribut tenang. Pasalnya, petugas kepolisian Diraja Malaysia kerap sweeping. Namun, Ribut bersyukur, wajah melayu dan kulit cokelat sering membantunya lolos dari penyisiran petugas. ‘’Setiap kali ada operasi, saya selalu lolos. Ya mungkin karena kulit saya agak putih kayak orang Malaysia, dialek saya saat itu juga Melayu,’’ ujarnya tersenyum.

Setahun menjadi tukang, bapak dua anak itu memikirkan untuk kembali ke tanah air. Apalagi, saat itu banyak TKI yang kena kasus narkoba. Khawatir situasi tidak aman, dia memilih pulang ke Ponorogo. Namun, karena berstatus TKI ilegal, dia memberanikan diri mendatangi KJRI untuk mengurus surat pengganti laksana parpor (SPLP). ‘’Saya menyerahkan paspor untuk mendapatkan SPLP. Seminggu sudah jadi dan saya pulang ke tanah air lewat pelabuhan Belawan, Medan. Ke Ponorogo naik bus,’’ ungkapnya.

Penghasilannya sebagai kuli dan tukang di negeri Jiran tidak dia habiskan begitu saja. Duitnya untuk melanjutkan pendidikan D-2 jurusan PGSD. Dia juga memakai penghasilanya tersebut untuk kursus bahasa Jepang. ‘’Alhamdulillah, saya dapat beasiswa magang di Jepang. Saya dikirim ke daerah Kwanto, Tokyo. Saat itu saya bekerja di perusahaan konstruksi anti gempa,’’ terangnya.

Penghasilan di Jepang tergolong tinggi. Dalam sebulan, suami dari Hety Mulyani bisa mengantongi uang Rp 9 juta. Itu belum masuk overtime saat bekerja. ‘’Saya berangkat sekitar 2006 dan pulang 2009, tiga tahun di Jepang penghasilan lumayan. Duitnya saya pakai modal untuk berwirausaha, membuka kursus bahasa Jepang,’’ tuturnya.

Di Jepang, Ribut membangun jaringan dengan sesama peserta magang. Dia pun sempat didaulat menjadi ketua ikatan persaudaraan trainee di Jepang. ‘’Saat pulang ke tanah air, saya juga didaulat menjadi ketua ikatan alumni trainee Jepang seluruh Indonesia. Kami memiliki 1.000 anggota aktif yang tersebar di semua provinsi,’’ terangnya.

Lika-liku menjadi TKI tidak membuat Ribut malu. Kini, dia sudah menjadi anggota DPRD Ponorogo. Sepulang menjadi TKI, dia membuka usaha. ‘’Saya ingin menularkan ke teman-teman teman TKI, penghasilan dari luar negeri jangan habis untuk konsumtif. Lebih baik untuk modal usaha dan meningkatkan kemampuan diri,’’ papar Anggota Dewan dari PKS ini.*** (Sumber: radar madiun)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*