Jabar Pacu Kompetensi Calon TKI Perluas Kesempatan Kerja

BANDUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Barat memfasilitasi pelatihan bagi calon tenaga kerja yang akan bekerja ke luar negeri guna memacu kompetensinya serta memperluas kesempatan dalam bekerja.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jabar Ferry Sofwan Arief mengatakan perluasan kesempatan sangat penting sebagai upaya mengurangi angka pengangguran di provinsi tersebut.

“Berbagai fasilitasi yang diberikan bagi calon tenaga kerja di antaranya fasilitasi pelatihan selama 21 hari dengan materi unit kompetensi dan non-kompetensi,” katanya, Jumat (26/2/2016).

Dia menjelaskan untuk pelatihan kompetensi mencakup keselamatan dan kesehatan kerja, bahasa negara tujuan, informasi teknologi, sosial budaya negara tujuan, serta teknik komunikasi. Adapun untuk materi pelatihan non-kompetensi meliputi achievement motivation training dan pengelolaan keuangan.

Dia mengungkapkan populasi angkatan kerja di Jabar sampai 2015 terdapat 20.586.356 orang. Dari jumlah tersebut, penduduk yang bekerja sebanyak 18.791.482 orang (91,28%) dari jumlah angkatan kerja.

Sementara itu, untuk jumlah penganggur tercatat sebanyak 1.794.874 orang. Jika dibandingkan dengan 2014, jumlah angkatan kerja berkurang sebanyak 419.000 orang.

Ferry menyebutkan ada beberapa permasalahan ketenagakerjaan di Jabar antara lain mayoritas angkatan kerja berpendidikan SD ke bawah 42,28%. dan persebaran tenaga kerja tidak merata.

Selain itu, kualifikasi keterampilan rendah seiring dengan tingkat pendidikan formal yang dimiliki, serta tingginya angka putus sekolah yang terpaksa masuk pasar kerja, ditambah pekerja migran.

Dalam rangka mengevaluasi kondisi ketenagakerjaan di Jabar, pihaknya juga mencatat karakteristik pencari kerja di Jabar, salah satunya adanya migran dengan tujuan mencari pekerjaan di Jabar.

Pada perkembangan terpisah, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jabar mengungkapkan mayoritas kalangan industri mementingkan keahlian dalam menyerap tenaga kerja.

Ketua Apindo Jabar Dedy Widjaja menegaskan kompetensi menjadi tolok ukur karena para pekerja dituntut berkompetisi dengan pekerja lain, terutama di era pasar bebas Asean. “Kalau keahlian ini tidak dimiliki oleh pekerja dalam negei, maka mereka tidak bisa bersaing dengan pekerja luar negeri,” ujarnya.

Apindo sendiri sudah meminta Disnakertrans Jabar untuk mengebut proses sertifikasi kompetensi bagi pekerja terutama industri padat karya, yang pasti banyak dilirik oleh pekerja luar negeri.

“Industri padat karya ini banyak menjadi harapan dari orang-orang luar negeri. Oleh karena itu pemerintah sudah harus menggencarkan sertifikasi kompetensi bagi pekerja lokal,” ujarnya. (sumber: bisnis.com)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*