Kisah Pekerja Migran Indonesia yang Lolos dari Wilayah Konflik Suriah

Ribuan pekerja migran Indonesia telah dipulangkan dari Suriah, sejak 2012 lalu. Beberapa bulan setelah perang di Suriah pemerintah menghentikan pengiriman tenaga kerja Indonesia TKI ke negara itu, meski begitu masih banyak TKI yang tetap dikirim secara ilegal ke sana dan tidak diketahui berapa banyak yang masih terjebak konflik. Berikut beberapa kisah tentang para pekerja migran Indonesia yang lolos dari wilayah konflik Suriah seperti yang di lansir oleh BBC Indonesia:

Sri Rahayu: “Masih sering kaget dengan suara yang keras (trauma)”

Sri Rahayu (46 tahun) ditemui di Desa Gontar, Alas Barat, Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Daerah ini merupakan salah satu pengirim buruh migran yang terbesar di Indonesia.

Dia kembali dari Suriah pada Maret 2016 setelah bekerja selama lima tahun di negara itu.

Awalnya dia bekerja di Aleppo selama 2,5 tahun, meski kontraknya telah habis, Sri bukannya dipulangkan tapi ‘dijual’ oleh agen untuk bekerja di Raqqah. Kemudian dia bekerja selama tiga tahun terakhir di Kota Raqqah, yang pernah diklaim sebagai ibukota oleh kelompok yang menamakan diri Negara Islam ISIS.

Meski telah beberapa bulan kembali ke desanya, Sri mengaku masih sering merasa kaget dengan bunyi suara yang keras.

“Saya khawatir itu merupakan suara bom,” ungkap dia.

Sri mengatakan ledakan bom dan suara tembakan sering terdengar beberapa bulan setelah ISIS menguasai Raqqah.

Rumah majikan Sri pernah terkena bom dalam sebuah serangan udara.

“Saya dengar itu pesawatnya, ketika itu saya sedang di dapur memasak, pancinya terbang ke mana-mana. Dagingnya juga. Saya (terhempas) ke tembok, terus di situ saya duduk. Api (berkobar) di rumah majikan, mau teriak nggak bisa, mau bergerak sudah tidak bisa. Kaget saya,” tutunya.

Setelah serangan bom itu, Sri dan majikannya tinggal di sebuah lubang perlindungan di bagian bawah rumah untuk menghindari serangan lanjutan.

Sri masih mengingat ISIS memberlakukan aturan yang ketat; perempuan harus memakai burqa, dan tidak diperbolehkan untuk bepergian sendirian. Mereka juga melarang merokok dan minuman keras.

“Tapi mereka juga melanggar. Katanya dilarang merokok dan minum, mereka sendiri minum, merokok -kan saya sering liat kalau ke pasar itu. Terus kalau waktu salat, teriak-teriak orang suruh salat, dirinya nggak salat,” kata Sri Rahayu.

Selama tinggal di Raqqah, Sri menyaksikan kekejaman ISIS, yang sering menaruh beberapa penggalan kepala manusia di tengah kota.

“Waktu itu hari Jumat , saya minta uang sama majikan, saya mau belanja sayur-sayuran. Sudah ramai di situ. Saya penasaran ada orang memfoto, syuting-syuting di situ,” kisah Sri.

“Saya jalan ke sana. Pas saya nengok, ada tujuh atau delapan kepala itu dijejer, darahnya masih mengucur. Sayuran belanjaan saya lempar, dan langsung saya lari ke rumah majikan, pulang.”

Pengalaman yang mengerikan itu, membuat Sri ingin kembali ke Indonesia. Berbekal telepon genggam pinjaman dari majikannya, dia mencari nomor kontak KBRI.

Meski berhasil mengontak KBRI, Sri harus menunggu selama satu tahun. Itu, menurut KBRI, karena sulitnya ‘menyelamatkan’ orang dari Raqqah yang dikuasai ISIS.

Sri kemudian dijemput supir taksi yang disewa KBRI, untuk menuju Damaskaus melalui perjalanan selama enam hari dengan melewati pengunungan agar menghindari ISIS yang berjaga di perbatasan Raqqa.

Setelah kembali ke desanya, Sri mengaku tak ingin kembali bekerja lagi ke luar negeri dan memilih untuk bertani.

“Perasaan saya bebas. Alhamdulillah saya masih hidup, walaupun saya tidak bawa apa-apa, saya bisa ketemu lagi dengan keluarga: sama ibu, suami, anak. Alhamdulillah lega. Kalau rejeki di mana-mana dapat,” jelas Sri.

Maria: “Majikan saya lari ke Mesir, saya dikirim ke Aleppo”

Negara-negara di Timur Tengah merupakan tujuan mayoritas buruh migran Indonesia sejak tahun 1980an.

Sebagian besar adalah perempuan yang berasal dari daerah-daerah miskin yang sulit mencari pekerjaan di dalam negeri.

Maria Asumta (34) yang berasal dari Kota Ende di Nusa Tenggara Timur, hanyalah lulusan SD yang mencoba mencari peruntungan bekerja di luar negeri. Cerita pengalaman sukses para TKW, membuat dia tergiur ketika ditawari bekerja di Suriah sebelum konflik terjadi pada 2011 lalu.

Oleh agen pengirimnya, dia dikirim bekerja di Homs, di rumah anggota militer Suriah. Beberapa bulan kemudian, konflik pecah di Homs antara pemberontak dan pendukung pemerintah Suriah.

“Kalau tahu ada perang saya tak mau ke Suriah. Tiga bulan setelah itu, baru ada tembakan, ada pesawat-pesawat itu,.. Bom-bom, rumah semua hancur… Kalau tembakan, tidak begitu parah… Masih bisa tidur… kalau (bom), parah… Tak bakalan tidur,” jelas dia.

Selama di Homs, Maria bercerita, majikannya dicari oleh pihak pemberontak. Akhirnya majikan Maria pun melarikan diri ke Mesir, meninggalkannya seorang diri. Lalu, kerabat majikan Maria membawanya ke rumah koleganya di Aleppo dan dia bekerja di sana.

“Saya ditinggal, mereka sudah pergi. Lalu, keponakannya mengantar saya ke rumah temannya… bilangnya saya mau kerja di Syam…. tidak tahunya saya diantar ke Harlab Zahra itu ( Aleppo) tempat perang… yang sangat (mengerikan)… Mau mati mau hidup, juga tidak tahu..”

Maria menceritakan setiap hari dia mendengar suara tembakan dan ledakan bom. Ia sempat mengungsi ke tempat yang lebih aman setelah terjadi serangan bom di permukiman tempat dia bekerja.

Setelah tiga tahun, dia meminta majikannya agar dipulangkan dan mengantar dia ke KBRI di Aleppo. Majikannya sempat menolak.

“(Katanya) kamu tak usah pulang, buat apa kamu ke savara (penampungan di KBRI) lebih baik kamu kerja sama saya saja,” kata Maria.

Setelah beberapa kali memaksa untuk dipulangkan, Maria pun akhirnya diantar ke kantor konsulat Indonesia di Aleppo, setelah beberapa bulan dia dikirim ke Damaskus, dan akhirnya dipulangkan ke Indonesia pada Oktober lalu. Tapi, gajinya tak pernah dibayar oleh majikan keduanya.

“Saya memang minta gaji… Tapi dia bilang tunggu dulu sampai ke Indonesia.. Tetapi sesudah saya sampai, saya telpon dia, dia tidak angkat… .Saya bisa apa…” keluh Maria.

Selama bekerja di Suriah hampir lima tahun, Maria hanya membawa pulang sekitar 1.300 dollar atau Rp.20 juta yaitu gaji dari majikan pertamanya. Mimpinya untuk membangun rumah dan membiayai sekolah keponakannya pun buyar.

Romlah: “Saya ditawari bekerja ke Bahrain, tapi dikirim ke Suriah”

Romlah (45 tahun)- mantan TKW di Suriah – asal Indramayu Jawa Barat, dikirim ke Suriah pada akhir 2015. Awalnya dia diiming-imingi untuk bekerja di Bahrain dan diberi uang Rp. 2,5 juta sebelum berangkat.

Tetapi, menjelang keberangkatan dia diberitahu bahwa akan dikirim ke Suriah. Romlah tak punya pilihan, karena jika menolak dia harus mengembalikan uang yang telah diberikan oleh agen.

“Tapi katanya saya akan bekerja di tempat yang jauh dari perang,” kata dia.

Romlah pun terpaksa berangkat ke Suriah, dari Indramayu dia dibawa ke Batam, lalu menyeberang ke Singapura dengan kapal laut. Dari negara itu perjalanan ke Damaskus dimulai dengan tujuan pertama Guangzho Cina, Dubai, sampai akhirnya ke Damaskus.

“Keluar dari bandara mengerikan melihat daerah situ rumah pada gelap, banyak tentara dalam perjalanan, bawa bedil… Itu setiap mobil dibuka bagasinya… Sampai saya sempat menangis sama temen saya kok begini ya ..,” ungkap Romlah.

Romlah ditempatkan selama sekitar dua minggu di penampungan milik agen, lalu dikirim bekerja ke Damaskus. Situasi aman yang dijanjikan oleh agen tak terbukti, dan setiap hari dia mendengar suara tembakan dan bom.

“Hati saya tidak tenang, saya bisa gila di sini dengar suara tembakan.. Waduh gimana tidur juga nggak enak karena saya dengar suara bom… Saya takut mati di situ,” kata Romlah.

Setelah empat bulan bekerja, Romlah minta dipulangkan dan meminta bantuan petugas KBRI di Damaskus. Tapi majikan tidak mengijinkan karena dia telah membayar uang sebesar 8.000 dollar AS pada agen untuk ‘mendapatkan’ Romlah.

“Katanya saya harus kembalikan uang majikan kalau mau pulang, saya juga khawatir dikembalikan ke kantor (agen) karena takut dijual lagi ke orang lain,” kata Romlah.

Suami dan seorang pendamping dari desanya menelpon KBRI agar menjemput Romlah. Setelah empat bulan bekerja, petugas KBRI pun menjemput Romlah dari rumah majikannya.

Oktober 2016, Romlah kembali ke Indonesia.

Sesudah itu ia jadi menyadari praktik pengiriman TKW ilegal, lebih-lebih ke kawasan perang, merupakan kejahatan perdagangan orang. Dia ingin agar pelakunya ditangkap.

“Kasihan kan teman kita yang belakangan pergi. Nanti jadi korban. Dia (pengerah tenaga kerja ilegal) yang untung, kita yang buntung… Kasihan keluarga kita… Orang yang menjual kita nggak tanggung jawab, dia yang makan uang,” kata Romlah.

(Sumber: bbc.com)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*